Senin, 04 Mei 2009

REFLEKSI A MALIK FADJAR


Persoalan Bangsa Tak Sebatas Sekolah Gratis
Senin, 4 Mei 2009 | 04:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Persoalan bangsa ini tak hanya sekolah gratis, tetapi kenapa belakangan tema-tema yang muncul lebih gencar soal sekolah gratis. Pasca-Pilpres 2009, jangan hanya bicara soal anggaran pendidikan yang 20 persen, tetapi bagaimana memosisikan pendidikan sebagai bagian penting dari jalan membangun masa depan.

Hal itu diungkapkan mantan Menteri Agama dan mantan Menteri Pendidikan Nasional A Malik Fadjar, Sabtu (2/5) malam di Auditorium PP Muhammadiyah, Jakarta, dalam acara Refleksi Pendidikan dan Kebangsaan. Acara itu digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperingati 70 tahun usia dan 50 tahun kiprah A Malik Fadjar di bidang pendidikan.

Malik Fadjar dinilai sebagai tokoh langka bangsa ini. Dia memulai kiprahnya di pendidikan dari menjadi guru sekolah rakyat di daerah terpencil di Sumbawa Besar, tahun 1959, lalu menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel Malang hingga menjadi rektor di dua universitas sekaligus, UMM dan Universitas Muhammadiyah Solo (UMS). Dia juga seorang birokrat di Departemen Agama dan menjadi Menteri Pendidikan Nasional pada Kabinet Gotong Royong. Kini, di usia 70 tahun, ia tetap aktif sebagai pendidik.

Malik Fadjar menjelaskan, pendidikan adalah investasi sosial, investasi sumber daya manusia, dan modal manusia menghadapi masa depan dan mampu mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan manusia semakin beradab.

Sejumlah tokoh memberikan refleksi tentang Malik Fadjar, seperti sejarawan Taufik Abdullah, pendidik dan ahli pendidikan Arief Rahman Hakim, Buya Syafi’i Ma’arif, mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro, pakar pendidikan HAR Tilaar, Ketua Program Pascasarjana UIN Jakarta Azyumardi Azra, Dirjen Dikdasmen Depdiknas Suyanto, Pimpinan Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan Komaruddin Hidayat. Sjafi’i Ma’arif mengatakan, Malik Fadjar adalah tokoh yang merajut kebangsaan. HAR Tilaar menilai Malik sebagai humanis dan nasionalis tulen.

Pada acara itu juga diluncurkan empat buku mengenai Malik Fadjar. (NAL)

Tidak ada komentar: